Guys, sorry to break the Turkey Journey story for a while.Actually Bromo is one of my traveling destination. Especially the location still consider close to my project location in Malang city.
Awalnya di akhir bulan Maret kemarin aku hanya merencanakan perjalanan pekerjaanku ke Malang. Selesainya pekerjaan ku di Malang dan akan adanya soft opening untuk electronic store yang telah ku design, aku harus berangkat ke sana untuk final check.
Bosku, Matsu-san, meminta ku ke sana untuk mewakili beliau dan mengajak 2 orang tim disainku. Kami akan menghabiskan 2 hari di Malang dan 1 hari di Surabaya. Dan ternyata di hari ke empat (hari Kamis, tanggal 9 April) adalah hari libur sehubungan Pemilihan Umum untuk anggota Legeslatif di Indonesia. Lebih begonya lagi aku baru sadar kalo di hari ke lima (hari Jumat, 10 April) adalah hari libur Wafatnya Isa Almasih.
And finally we agreed to take advantage of the two days holiday.
Lets go to the BROMO!!! Yehaaa.....
Senin, 6 April;
Jam 08.00 am kita berkumpul di kantor di daerah jakarta selatan.
Kami memilih memesan Mercy Silver Bird karena kita bisa share bertiga. Sayang karena lalu lintas macet sehingga biaya sampai bandara: Rp. 239 rb rupiah.
Tapi untuk kenyamanan yang kita dapat sepadanlah.
Pesawat ku GA 312, dengan harga tiket Rp. 851.800 (sudah termasuk pajak dan lain2), take off agak terlambat karena harus menunggu 2 orang penumpang yang mungkin terlambat karena masalah tikecting juga. Dari ETA 12.20, kita sudah landing 12.12. Lebih cepat 8 menit dari schedule. Good good. Its quite punctual. Salute for Garuda. Kayaknya karena keterlambatan take-off tadi si pilot "kejar setoran" mengebut, sehingga mendarat lebih awal.
Di Surabaya seperti biasa kita sudah dijemput oleh temanku. Aku terbiasa menggunakan jasa Agung, temanku, untuk penyewaan mobil.
Fee untuk penyewaan mobil ini Rp. 400ribu /hari sudah termasuk jasa supirnya, tetapi belum termasuk bensin. Rencananya kami akan memakai jasa sewa mobil ini untuk 4 hari.
Setalah menyelesaikan urusan di Surabaya, sekitar jam 06.30 pm kami berangkat ke Malang.
Surabaya ke Malang rata-rata memakan waktu 2-3 jam termasuk melewati daerah Porong dengan masalah lumpur Lapindo-nya itu.
Jam 8.30 pm kami sampai di kota Malang. Perjalanan yang melelahkan. Dan setelah memyelesaikan urusan pekerjaan, kami check-in di Hotel Santika. Beberapa kali saya sudah menginap di Hotel ini. Untuk pertimbangan bisnis, sebenarnya Santika bukan pilihan yang terbaik. Mereka tidak menyediakan layanan internet yang memadai. Untuk koneksi internet, kita harus membeli voucher internet Indosat IM2. Pada saat itupun di front office mereka tidak menjualnya.
Hotel Tugu lebih baik dalam hal ini. Internet connection mereka free dan speed-nya pun bikin saya kaget (ketika saya menginap di sana). Tapi untuk ukuran luasan kamar, Hotel Santika lebih memberikan ukuran yang lebih luas, dengan inner view yang lebih baik (untuk beberapa kamar).
Tugu Hotel considered as a unique etnic hotel with better internet connection.
Dua hari di Malang akhirnya selesai juga tugas-tugas kerjaanku.
Its time to prepare to go to Bromo.
Rabu, 8 April;
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 pm. Mampir makan sebentar di Rawon Nguling, rumah makan special rawon yang aslinya berasal dari daerah Probolinggo.
Setelah selesai makan, kita berangkat menuju Bromo.
Malang ke Bromo jarak yang ditempuh lebih dari 100 km, dengan perkiraan 2 jam perjalanan.
Kami sengaja jalan setelah makan siang karena menghindari sampai di Bromo malam. Bila malam tentu pemandangan di sepanjang perjalanan Bromo tidak bisa dinikmati.
Di perjalanan kami sempat berhenti di luar kota Malang, di kota Lawang. Kami singgah di peternakan lebah Rimba Raya. Agung memberitahu kalau peternakan lebah ini lumayan terkenal dan sudah pernah diliput oleh salah satu stasiun televisi. Di sana aku baru tahu kalo ternyata madu itu ada beberapa jenis. Mereka membaginya menjadi 4 jenis madu antara lain: madu yang yang benar-benar madu yang dihasilkan oleh lebah, madu yang berasal dari kumpulan sari pati bunga, madu yang diolah dari sarang lebah itu sendiri dan madu yang diolah dari larva lebah. Aku membeli satu yaitu madu yang berasal dari larva lebah, yang berfungsi mengurangi alergi. Madu jenis ini mereka menyebutnya madu propolis alergi.
Harganya Rp 100rb / botol.
Setalah selesai urusan madu, kami melanjutkan perjalanan. Di pertigaan Purwosari ternyata kita belok ke kanan, kalau menuju Surabaya ke sebelah kiri. Kita menuju ke arah kota Pasuruan. Purwosari ke Pasuruan kurang lebih 40 km. Tidak begitu jauh dan lalu lintasnya juga tidak terlalu padat.
Sesampainya di Pasuruan Agung sempat bingung dan kehilangan arah. Tetapi setengah kurang yakin akhirnya kita menemukan rute ke Bromo kembali. Rute yang kita ambil adalah rute pantura Surabaya - Banyuwangi. Lalu lintas hari itu juga tidak terlalu padat. Hanya sekali-kali berpapasan dengan truk. Dari Pasuruan ini kita ke arah timur menuju kota Probolinggo.
Pasuruan ke Probolinggo berjarak kurang lebih 39 km. Sebelum memasuki kota Probolinggo kita berbelok ke arah Selatan, menuju daerah bernama Ngadisari.
Jalur ini mulai berasa menanjak. Kanan kiri pemandangannya mulai terlihat asri.
Untuk menghemat bensin kita sepakat tidak menggunakan pendingin udara (AC).
Dari Probolinggo ke Ngadisari ini kita akan menemukan 1 pengisian bahan bakar (POM Bensin).
Dan kita mengisi bensin di situ, cukup dengan Rp. 100 ribu, kurang lebih setara dengan 22 liter bensin.
Di daerah Ngadisari ternyata sebuah hotel terbesar di sana terlihat sudah ditutup. Dan di daerah yang lebih jauh kita menemukan penginapan baru dengan nama "Banana Leaf".Sepintas kelihatan baru, modern dan bersih. Tadinya kami kira itu adalah restaurant, ternyata kita salah. Sekitar kanan-kiri jalan pemandangan sangat asri dengan lembah dan bukit-bukit. Beberapa seakan-akan gunung-gunung itu seperti raksasa besar yang menghadang perjalanan kita. Saya merasakan kebesaran Tuhan di sana. Gunung-gunung ini saja besar sekali, seakan-akan manusia kecil tidak ada apa-apanya, apa lagi sang Pencipta gunung-gunung ini.
Sekitar jam 05.00 kita sampai di desa Ngadisari. Sebuah hotel bernama Lava View terlihat berada di ujung. Agung sepertinya agak bingung dengan kondisi di daerah itu. Kemudian dia coba bertanya ke orang-orang yang berada di sana arah menuju Bromo Cottage. Ternyata kita mendapatkan jawaban kalau Bromo Cottage ada di daerah lain. We are lost. Kita berada di arah yang salah. Mereka bilang kita terlalu jauh 30 km. Bromo Cottage berada di daerah Tosari yang seharusnya bisa dicapai dari arah Pasuruan dan mereka menawarkan jasa 100rb untuk mengantarkan ke sana melalui jalan pintas melalui lautan pasir Bromo.
Saya coba menawar jumlah tersebut, tetapi sepertinyta mereka bersikeras dengan jumlah itu.
Akhirnya kite menyetujui jumlah tersebut mengingat jam menunjukkan jam 05.00 pm.


Mereka mengantarkan kita sebagai guide menggunakan motor, berboncengan berdua berjalan di depan. Belum 1 km, setelah melewati portal "Taman Wisata Bromo Tengger Semeru", kita dibuat takjub dengan pemandangan di sebelah kanan kita. GUNUNG BROMO, GUNUNG BATOK dan LAUTAN PASIR-nya, tepat berada di kanan kita. Kita sangat takjub dengan pemandangan ini. Terlihat beberapa turis dari mancanegara sedang berfoto di tepi tebing itu.Kita juga berhenti sebentar dan berfoto-foto di sana. Kedua guide kita juga menunggu di atas motor mereka. Terlihat sangat jelas GUNUNG BATOK. Dan lagi-lagi saya benar-benar merasakan kebesaran Tuhan.
Setelah puas berfoto, kita melanjutkan perjalanan. Turun menuju lautan pasir dan mendekati Gunung Batok. Jam saat itu menunjukkan pukul 5.30 pm. Bayangkan menjelang magrib kita berada di tengah-tengah lautan pasir Bromo. Sekali lagi kita berhenti di sana. Berfoto-foto ria di sana. Tidak ada yang orang lain di sana selain kita berempat dan di kejauhan 2 orang guide kita yang sudah tidak sabar menunggu kita. Kemudian kita melewati kuil sembahyang suku Tengger dengan latar belakang Gunung Bromo dan mendekati Gunung Batok.
Di akhir lautan pasir, kita sampai di sebuah gerbang / gapura. Di balik gerbang terlihat jalan yang sangat terjal menuju gugus pegunungan yang mengelilingi Gunung Bromo dan lautan pasirnya. Dua orang guide kita menunggu kita di sana. Mereka mengingatkan kita kalau nanti sebaiknya mobil kita dalam gigi 1 saja di jalan depan yang menanjak itu.
Hari mulai gelap, dan kita mulai menyusuri jalan menanjak itu. Kanan kiri terlihat lembah.
Uppps kita in the midlle of no where. Sepi dan gelap sekali. Gunung Bromo mulai terlihat menjauh. Agung dengan driving skill nya melahap setiap tikungan dan tanjakan. Kemudian saya tahu kalau daerah ini bernama Wonokitri. Sesekali kita berpapasan dengan masyarakat setampat yang berjalan kami di kegelapan. Mungkin mereka adalah suku Tengger.
Di setiap ujung tikungan terlihat stupa mirip dengan stupa di Bali.
Note:
Tengger ethnic society such as religious Hindu Bali. Between December - January they perform Hindu rituals at the shrine near the Bromo crater. This ritual usually known by the name "Kasodo".
- Bromo Cottage Hotel see from the distance -Setelah berjalan kurang lebih hampir 45 menit kita mulai menemukan peradaban. Terlihat kelompok pemukiman. Sesekali mulai berpapasan dengan motor dan mobil. Sepertinya kita sudah samapai di desa Tosari. Dan akhirnya sebuah papan penunjuk arah ke Bromo Cottage. Melewati pemukiman penduduk dan pasar, akhirnya kita sampai di Bromo Cottage. Hotel yang cukup besar. Berada di desa Tosari, yang masih merupakan desa suku Tengger. Mereka memiliki 80 kamar superior, 3 kamar suite dan 20 cottage dengan beberapa fasilitas.
Reservasi hotel saya sudah diatur sebelumnya oleh Agung melalui travel agent di Surabaya. Saya hanya memesan 1 kamar superior dengan harga Rp. 500 rb / malam, sudah termasuk sarapan untuk dua orang. Sebenarnya kamar superior lebih cocok untuk 2 orang. Tetapi mengingat kita hanya butuh 1 malam saja, saya memutuskan memesannya dan kita berempat harus share di sana.
Setelah selesai dengan urusan administrasi di front desk, kami menuju kamar kami.
Ternyata hotel ini terletak di lembah. Untuk menuju ke kamar, kami harus menuruni tangga. Beberapa kamar terkumpul dalam satu compound, dan Bromo Cottage memeliki beberapa compound. Compound kamar kita terletak di tengah lembah, jadi jalan turunnya cukup jauh.
Masuk ke kamar, ternyata tempat tidurnya twin bed. Jadi kita bisa sharing 1 tempat tidur untuk 2 orang. Dua tempat tidur spring bed dengan bagian bawahnya dipan tripek.
Jadi kalau kasurnya diturunkan ke bawah, bagian dipannya tidak nyaman untuk ditiduri.
Suasana interiornya tidak terlalu bagus, tetapi lumayan bersih. Designnya terlihat sudah old fashion. Konsepnya kurang jelas. Tapi terlihat kalau dahulu si designer coba menerapkan konsep rumah kayu di dunia barat ke design interior kamar ini.
Tetapi terlihat tidak berhasil 100%. Untuk sekedar tidur menunggu jam 4 pagi saya rasa ini sudah cukup. Kamar mandinya dilengkapi dengan bath tube dan shower di dalamnya. Jumlah pemakaian air panas showernya dibatasi beberapa liter dalam 1 jam.
Kondisi Agung terlihat payah. Kayaknya dia tertular flu sebelumnya. Dia berbaring sebentar di kasur dan terlihat langsung tertidur. Saya memutuskan mengajak teman2 untuk mencari makan malam. Karena harus makan malam, Agung kita bangunkan. Suhu di luar terasa sangat dingin sekita 17 derajat Celcius. Di lobby kami melihat banyak turis-turis mulai check in.
Sepertinya mereka satu rombongan. Dari receptionist saya diberitahu kalau mereka berasal dari Belgia.
Kita mendapatkan informasi, bisa makan di daerah pasar Tosari, banyak pilihan di sana ada nasi goreng, bakso dan lain-lainnya. Tidak mau repot dengan pilihan-pilihan di pasar itu kita memutuskan tidak makan di sana, dan singgah di warung Bu Fat. Warung ini cukup terkenal di daerah sana. Suasana di sekitar warung ini tidak seramai di pasar. Pilihan makanan di warung itu pun lumayan banyak. Saya memilih ayam goreng dan sate sapi. Rasanya cukup lezat untuk ukuran warung.
Selesai makan, kami kembali ke hotel. Dalam perjalanan kami coba mencari informasi mengenai penyewaan jip. Kata Agung pengalaman naik jip ke Bromo akan terasa berbeda.
Dari orang yang kami temui mereka menyebutkan angka 350rb untuk 1 jip dengan rute ke Gunung Penanjakan untuk melihat sunrise dan kemudian menuju lautan pasir.
Kami minta dijemput di hotel setelah deal dengan harga 250rb dengan salah seorang sopir bernama pak Kariono.
Sesampainya di kamar hotel, Agung langsung tergeletak di tempat tidur. Tidak lama berselang, receptionist menelpon kami. Mereka menerangkan kalau tamu hotel tidak bisa deal langsung ke supir jip. Tamu harus memesan jasa jip melalui hotel dengan tarif 350rb.
Tidak punya pilihan lain akhirnya kami menyetujui hal ini dengan pihak hotel. Mereka juga menginformasikan kalau tour dimulai jam 04.00 pagi.
Jam 10.00 malam kami mulai bersiap tidur. Susah untuk tidur, karena suhu sangat dingin dan tidak ada pemanas ruangan. Hanya karena kecapaian kami bisa tidur.
Kamis, 9 April;

Jam 3.30 kami terbangunkan oleh wake up call dari receptionist. Aku membangunkan semuanya, tetapi Agung memutuskan tidak ikut karena kondisinya yang payah. Ternyata di lobby sudah berkumpul semua turis, sebagian besar dari rombongan Belgia dengan tour guidenya. Terlihat 1 orang Jepang dan hanya kami bertiga turis lokal.Tersedia kopi, teh dan beberapa makanan kecil. Menikmati sebentar, saya memutuskan untuk pergi lebih awal dari rombongan itu. Jip yang kita naiki adalah jip yang disopiri oleh pak Kariono.
Dalam perjalanan dia menceritakan kalau semua jip-jip ini dalam saru asosiasi. Kalau ordernya datang dari hotel-hotel besar harus dalam koordinasi hotel itu. Tapi kalau kita tinggal di losmen-losmen kecil di daerah itu, kita bisa memesan langsung ke supir-supir jip itu dengan upah yang lebih murah, 250rb dan selisih 100rb tersebut adalah jasa fee buat hotel. Kalau ada supir yang melanggar ijinnya akan dicabut dalam 1 bulan.
Ternyata jalan yang kami lalui adalah jalan yang sama kami lalui ketika kemarin sore kami mencari hotel kami. Cuma di persimpangan kami berbelok ke arah yang berbeda ke arah gunung Penanjakan dan jalannya berbelok-belok. Di kejauhan di bawah, terlihat iring-iringan jip para turis mengikuti arah yang kami lalui. Lucu sekali terlihat seperti iring-iringan kunang-kunang. Kami lalu terhenti di sebuah pos penjagaan. Kata pak Kariono saya harus membayar cover charge mobil. Di pos penjagaan ini kita harus turun sendiri dan masuk ke dalam pos untuk membayar.
Beberapa penjual terlihat menawarkan barang-barang jualan mereka. Aku membeli sepasang sarung tangan seharga 5rb dan tutup kepala 10rb.
Gunung Penanjakan adalah spot dimana orang-orang berkumpul untuk melihat keindahan sunrise di Gunung Bromo. Karena posisi gunung Penanjakan lebih tinggi sehingga mudah untuk melihat sekeliling. Kata pak Kariono, beruntung ini bukan peak season, sehingga kita tidak perlu parkir terlalu jauh. Posisi lokasi Taman WisataBromo Tengger Semeru tidak memliki tempat parkir khusus buat jip-jip itu. Mereka harus parkir di pinggir jalan saja. Biasanya kata pak Kariono, pengunjung ada yang harsu jalan sejauh 2 km dari tempat berhentian ke lokasi.
Kita berjalan hanya kurang lebih 400 m dari tempat pak Kariono berhenti. Itu pun sudah banyak jip yang parkir di sana.
Di sekitar gerbang, beberapa warung menjajakan kopi, mie rebus dan makanan kecil. Beberapa anak menawarkan sewa mantel tebal. Karena banyak orang yang well prepare dengan baju hangatnya masing-masing sepertinya sewaan mereka tidak begitu laku.
Rasa simpatiku akhirnya mebuatku menyewa 1 coat. Aku tawar 5ribu dari harga yang 10rb. Kita tidak perlu membayarnya dahulu. Setelah selesai nanti si penjaja akan mencari kita untuk mengambil coat dan uang sewanya.
Melalu gerbang atau tepatnya gapura, menaiki beberapa anak tangga membawa ke tempat orang-orang berkumpul. Surprise, sudah banyak sekali orang berkumpul di sana menantikan untuk melihat sunrise. Ada kurang lebih seratusan orang belum termasuk rombongan turis Belgia yang belum datang. Mereka datang dari segala penjuru. Dari logat dan bahasanya bisa dikenali dari Singapore, China, Jawa Barat, Jepang beberapa negara Eropa dengan bahasa Prancisnya, lokal Jawa Timuran dan lain-lainnya.
Semuanya mencari posisi terbaik untuk memotret moment sunrise. Camera yang mereka bawa pun berbagai macam dan jenis. Dari yang analog, pocket camera sampai digital SLR.
Kurang lebih 30 menit menunggu sunrise, akhirnya moment itu datang juga. Semua sibuk dengan kamera masing-masing. Ckrek sana, ckrek sini, seakan-akan semua photographer proffesional. Satu hal yang membuatku jengkel adalah kamera yang kubawa habis baterenya, pada saat matahari mulai mengintip dibalik cakrawala. Huuuh kesalnya. Terpaksa mengistirahatkannya sebentar.
TIPS:
ini penting, kadang-kadang pocket kamera kalau didiamkan sebentar bila baterenya mulai habis, dan akan bisa dipakai kembali walau tidak untuk waktu yang lama.
Ketika langit mulai terang, orang-orang mulai beralih dari arah Timur ke Selatan. Karena di arah Selatan Gunung Pananjakan terbentang pemandangan lautan pasir dan Gunung Bromo.
Beberapa saat kemudian, tour guide rombongan turis asing mulai memberikan instruksi dalam bahasa Perancis mengumpulkan anggota tour mereka. Mereka mulai meninggal area tersebut sepertinya menuju lautan pasir.
Di sebelah Barat area tersebut terletak beberapa tower pemancar telepon dan tower-tower lainnya. Spot ini juga baik sebagai latar belakang foto.Untuk mendapatkan background yang baik, kita tidak bisa hanya berdiri di area tersebut saja. Kita harus turun sedikit ke arah tower pemancar tersebut melewati pagar yang mengelilingi area tersebut.
Dan di sanalah kita bisa melihat pemandangan Gunung Bromo yang benar-benar indah. Kawah Gunung Bromo disebelah gunung Batok tertidur di lautan pasir dengan latar belakang Gunung Semeru di kejauhan. Di sudut bawah Gunung Bromo terlihat sebuah pura tempat suku Tengger bersembahyang. Rasanya ingin kembali ke sana kalau mengingat moment tersebut.
Setelah puas mengambil beberapa foto, kita kembali turun mencari mobil jip pak Kariono.Another important TIPS:
Do not just recognize the jeep from its color only, cause we will find many jeeps with the same color. Better you should memorize the car plate number before you leave.
Pada masa peak season akan ada puluhan jip di sana. Pada saat itu saja ada sekitar 30-an jip.
Setelah semua lengkap, kita berangkat menuruni Gunung Penanjakan menuju lautan pasir. Posisi tetap seperti semula, saya duduk di depan, Didi dan Rahmat duduk di belakang.
Di sebuah tikungan kita berhenti kembali karena dari tikungan itu kita bisa melihat Gunung Batok dari sisi yang lain. Berfoto sebentar dan melanjutkan perjalanan kembali.
Rute ini adalah rute yang kita tempuh kemarin malam. Di kejauhan di bawah di lautan pasir, kita bisa melihat rombongan turis yang lain sudah samapai di sana. Terlihat mereka memarkirkan jip mereka dengan rapi.
Dalam perjalanan, saya mencoba mengumpulkan informasi mengenai lokasi yang akan kita tuju dari Pak Kariono. Beliau menyebutkan dari lautan pasir menuju ujung anak tangga ke kawah Bromo kira-kira berjarak 2,5 km. Kita bisa menyewa kuda di sana. Rata-rata harga sewa kuda untuk bolak balik sekitar 100 ribu. Kalo kita pintar menawar bisa dapat 65rb.
Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya kita sampai di lautan pasir. Beberapa tukang kuda mengejar jip kita mencoba menawarkan jasa mereka.
Dari salah satu tukang kuda tersebut mereka menawarkan Rp 75rb sambil menakut-nakuti kalau jarak yang akan kita tempuh akan jauh dan kita akan menaiki tangga lagi pasti akan kecapaian.
Lucunya lagi 75ribu itu kata mereka hanya one way trip. Saya langsung menolak dan teman-teman yang lain setuju untuk berjalan kaki saja.
Tapi akhirnya si tukang kuda setuju dengan 75 ribu untuk bolak balik. Karena saya bukan penawar yang baik, saya menyetujuinya saja. Lumayan mendapatkan pengalaman naik kuda di Bromo.
Sebelum menaiki kuda beberapa instruksi diingatkan oleh tukang kuda, untuk berbelok ke kanan tarik kekang kuda ke kanan dan arah sebaliknya. Untuk berhenti tarik kekang ke arah belakang.
Rahmat paling terbiasa naik kuda, setelah naik posisinya terlihat satai sekali di atas kuda. Didi terlihat agak kaku. Sedangkan aku sendiri, susah sekali untuk menaiki si kuda. Mungkin karean perutku yang mulai membesar. Ha ha ha ha.
Setelah kudanya berjalan pun Rahmat terlihat santai sekali, sementara Didi masih membiasakan diri. Aku dan Rahmat coba membalap satu sama lain. Lucunya Didi yang mulai terbiasa menunggang kuda bisa mengambil foto dari atas kuda.
Melewati lautan pasir dan pura suku Tengger, di jalan yang menanjak kita juga melewati beberapa gundukan tanah. Jadi kita harus bisa sedikit mengendalikan kuda mencari tanah yang agak rata. Agak susah untuk menjaga keseimbangan badan bisa harus melawati jalan yang tidak rata. Dan aku sampai terlebih dahulu, lalu memberikan kudanya ke tukang kuda. Duh tangga menuju ke kawah Bromo sepertinya tinggi sekali ya. Duh rintangan lain pikirku.Berapa pastinya jumlah anak tangga menuju ke atas kawah Bromo saya tidak tahu. Tapi yang pasti sudut kemiringan tangga tersebut lebih dari 45 derajat.
Pasti sangat melelahkan. Baru 10 anak tangga rasanya seperti sudah beratus-ratus anak tangga. Kondisi ini biasa terjadi bagi orang-orang yang belum pernah naik gunung.
Udara yang tipis membuat membuat kita gampang capai. Padahal tinggi gunung Bromo relatif rendah, kurang lebih 2.440 km dari permukaan laut.
Ditengah-tengah tangga tersebut terdapat sedikit tempat beristirahat, tetapi karena kodisiku yang payah setiap 5 anak tangga saya berhenti untuk beristirahat.
Aku dan Didi tertinggal jauh di belakang dari Rahmat. Padahal Rahmat perokok, tetapi staminanya lebih mendukung. Akhrinya kami berhasi sampai di atas menyusul Rahmat.
TIPS:
Better should not impose yourselves to reach the top quickly. Lebih baik bisa mengukur diri sendiri. Terlihat ada oarang yang muntah-muntah setleai sampai di atas kawah karena memaksakan diri.
- in the middle of no where -Wah Kawah Bromo di lihat dari dekat ternyata luas sekali. Dasar kawah terlihat sangat dalam dan dari tengah-tengahnya masih terlihat asap keluar. Dari baunya bisa tercium bau belerang.
Terlalu lama menghirup gas belarang kadang membuat pusing juga. Di bibir kawah hanya sebagiannya saja yang dipagari, di bagian bibir yang lain sangat beresiko bagi orang-orang yang yang takut akan ketinggian.
Herannya ada beberapa orang yang berusaha memutari bibir kawah tersebut dan kemudian terlihat berada di bagian lain di seberang kawah dan kemudian berteriak seakan-akan mereka sudah berhasil menaklukan ketinggian Bromo.
Aku hanya cukup puas mencoba merayap ke bagian terdekat bibir kawah yang tanpa pagar, walau kemudian baliknya sedikit merayap karena fokus mataku tidak terbiasa dengan perbedaan ketinggian.
- The journey I have made meander, far away and many of deterrents. Same as my life -Akhirnya Didi yang mulai tidak tahan dengan bau gas belerang mengajak untuk turun kembali. Sayang kita tidak punya waktu yang banyak sehingga tidak bisa mendaki gunung Batok yang berada tepat di seberang Gunung Bromo. Jaraknya paling hanya 500 meter dengan ketinggian mungkin sekitar 1 km.



Setelah sampai di ujung bawah anak tangga, tukang kuda yang tadi menghampiri kami kembali. Mereka kembali mengingatkan beberapa instruksi-instruksi cuma dalam hal ini mereka menambhakan kalau menuruni turunan mereka memnta kita untuk condong ke arah belakang kuda dan kaki berada di depan.
Sebelum jalan turun, kami menyempatkan diri untuk berfoto di atas kuda. Dan jadilah si tukang kuda menjadi photographer dadakan.
Jalan menurun lebih susah bila kita mengendarai kuda. Harus lebih konsentrasi. Iri rasanya bila melihat beberapa tukang kudang yang sudah bisa dengan gesit dan cepat mengendarai kuda.
Dalam perjalanan turun, terlihat beberapa pengendara motor berusaha menaiki tanjakan dengan motor mereka ke arah tangga kawah. Tapi karena medannya tidak memungkinkan akhirnya mereka hanya bisa sampai pada batas tertentu saja.
Duh, orang-orang Indonesia kadang kurang menghargai ke-asri-an alam mereka sendiri. Saya sangat tidak setuju kalau motor sampai naik pada batas tersebut. Sebaiknya mereka parkir di tempat yang sama dimana jip-jip juga parkir.
Padahal patok-patok beton sudah membatasi dareah tersebut, sehingga jip atau mobil hanya bisa berhenti pada batas tersbut dan tidak mengganggu pura suku Tengger, tapi tetap saja motor bisa melewatinya.
Setelah mencapai daerah yang rata, aku mencoba memacu kudaku lebih kencang. Ternyata susah juga mengendalikan kuda dalam kecepatan yang lebih cepat (walau belum secepat tukang-tukang kuda itu).
Karena Didi masih tertinggal jauh di belakang, aku coba belajar lebih banyak mengendalikan kuda. Ternyata menarik juga ya. Paling-paling resikonya jatuh. Dan benar, ketika jalannya mulai tidak rata dan dalam kecepatan tinggi aku berusaha untuk menghentikan kuda.
Tetapi karena terlalu tiba-tiba dan posisiku masih condong ke depan akhirnya aku jatuh juga. Fuiiih, pas waktu jatuh seakan-akan gunung-gunung berputar mengelilingiku. He he he he. Untungnya bagian pinggangku yang menghantam tanah terlebih dahulu. Rahmat dan Didi tertawa-tawa melihat ku terjatuh dikejauhan.
Setelah berkumpul kembali, Rahmat mebayar sejumlah Rp 235rb untuk sewa tiga ekor kuda. Dipikir-pikir mungkin aku terlalu pelit setelah meminta Rahmat melebihkan 10ribu dari harga yang seharusnya.Kita berjalan kembali menghampiri jip Pak Kariono, dan lalu aku meminta pak Kariono untuk foto bersama di depan jip beliau.
Kembali melanjutkan perjalanan pulang ke penginapan Bromo Cottage dengan Agung yang tadi pagi masih tergeletak di sana dengan flu nya.

MY BROMO TRAVELING EXPENSES:
- FLIGHT Fare Jakarta - Surabaya Rp 851.800 / prsn (my return ticket more cheaper appx. + Rp 500.000)
- CAR + DRIVER Rp 400.000
- GASOLINE Rp. 100.000
- ROOM for Hotel Bromo Cottage (through Travel Agent) Rp 500.000 (superior twin + breakfast for 2 person)
- JEEP Rental Fee: Rp. 350.000 (coordinated by Hotel)
- COVER CHARGE to the "Bromo Tengger Semeru National Park"
- HORSE Rental Fee: 75.000/org + 10.000 tip
- GLOVE + HEAD COVER: Rp 15.000
- COAT Rental Fee Rp 5.000
In order to make your trip comfortable, I suggest you bring hiking shoes, torch, back up of your camera batteries for your camera or cam coder, umbrella or rain coat (during rainy season, normally from Novembar till March)
The temperature all year round in day time 22 - 26 C and night time 15 - 18 C with 55-70% humidity.


















