Monday, January 7, 2008

Rumah no. 10

Dodo termenung sendirian di rumahnya. Bengong tidak ada hal yang bisa dikerjakannya. Sepi rasanya. Hal itu dirasakanya sejak saudara-saudaranya pindah ke kota lain. Kakak laki-lakinya sudah lulus SMA dan harus meneruskan pendidikannya di kota Bandung.Sedangkan kakak keduanya pun harus pindah kuliah ke Jakarta kumpul kembali bersama orang tua mereka. Dan terakhir, kakak sulung nya harus mulai bekerja di Pekalongan.

Jenuh rasanya. Katanya sih rumah yang ditempatinya rada-rada spooky. Tapi karena Dodo sudah lama tinggal di situ, dia sudah mulai terbiasa dengan hal-hal yang berbau spooky di rumah itu.
Untuk menghindari kejenuhannya, Dodo mulai beranjak dari lamunannya dan mencari radio, temen satu-satunya untuk mengusir kesepiannya.

Ah hari masih sore, masih jam 7 malam. Acara di radio masih seperti biasa, pemutaran lagu favorit dan beberapa pesan / salam dari yang memintanya.Aha, sepertinya ide yang bagus untuk minta diputarkan lagu, sekalian kirim pesan ke temen-teman. Pesan, tentu saja undangan untuk datang ke rumah. He he he he.
Setalah meminta pesan lagunya melalui telpon dan menyampaikan pesan untuk diudarakan, Dodo mulai mendekati radionya sambil menantikan pesannya di udarakan.

Ah lama juga nih responnya, pikir Dodo dikejenuhannya.

Sebuah lagu dari Duran Duran request dari Dodo dari SMU Republik akan kami putarkan, dengan pesan buat teman-temannya yang medengarkan, ditunggu kehadirannya di rumah Dodo.

Nah, kayanya beres tuh satu hal. Tinggal nungguin respon baliknya dari temen-temen.

Jam 8 sudah. Lewat 1 jam dari ide awalnya untuk mengundang temen-temannya lewat radio. Ah kayaknya gak efektif nih ide radio. Mendingan lewat telpon, efektif, langsung tepat sasaran.Mau nunggu harus sampe jam berapa. Dikeluarkannya daftar nomor telpon teman2nya. Dihubunginya satu2 temennya yang kira-kira bersedia untuk datang.Ternyata dari 5 orang yang dihubunginya hanya 2 orang yang bersedia untuk datang. (Huuh ternyata Dodo gak populer ya)

8.30 dua temennya, Priyo dan Sonny, sampai di rumah Dodo. Lega rasanya. Dua orang temen yang bisa membantu membunuh kesepiannya.Cerita sana, cerita sini dengan beberapa hidangan seadanya yang Dodo beli dari warung sebelah rumahnya.

"Do, itu di plafon ada bunyi-bunyi apa sech? Kok dari tadi suaranya berisik gitu."

"Biasalah, suara tikus. SUka lari-lari di atas plafon. Selalu gitu kok. Makanya kalo becanda jangan berlebihan, nanti tikus-tikus itu ikut berisik juga."

"Alah bisa aja lu, masa tikus ikut2an. Do, gue mau ke WC, dimana?"

"Tuch, lewat ruang makan, trus belok ada pintu belok kiri. Tapi hati-hati ya, nanti tikus-tikus itu pasti ngikutin elo di atas plafon."

"Becanda lu", Priyo langsung menuju ke kamar mandi. Tapi belum 2 menit dia sudah kembali lagi. Mukanya terlihat agak keheranan.

"Kenapa lu, Yo? "

"Bener kata elo, itu suara-suara tikus diplafon kok ngikuti gue ya toilet?"

"Lah kan sudah gue bilang tadi, jangan suka becanda berlebihan. Nanti 'dia' ikut-ikutan lagi."

Sonny yang ikut mendegarkan, tertawa kecil, "Ya sudah lah mendingan kita keluar aja cari udara segar dari pada di rumah yang rada-rada gini", imbuhnya.

Jadilah akhirnya kita meninggalkan rumah tinggalku, rumah no. 10, untuk mencari menghirup udara malam.

Sudah bukan cerita baru kalo, rumah nomor 10 yang sekarang Dodo tinggali itu dikenal rada spooky. Gimana tidak, sejak awal kepindahan Dodo ke rumah itusaudara-saudara Dodo sudah cerita tentang hal-hal aneh yang terjadi di rumah itu.

Pernah suatu masa, dimana Dodo belum tinggal di rumah itu, sementara kakak-kakaknya sudah berada disitu dengan ditemani salah satu "nenek jauh" mereka.Nenek selalu tidur di ruang belakang, yang sebenarnya berfungsi sebagai ruang setrika juga. Dahulu sebelum direnovasi, ruang itu sebenarnya adalah bagian belakang rumah yang berfungsi sebagai tempat sumur. Tapi sumur tersebut udah ditutup, tetapi efeknya lantai di situ selalu saja turun. Menurut paman Dodo mungkin akibat settlement. Trus apa hubungnnya dengan cerita-cerita spooky itu? Jadi, setiap nenek tidur di kamar itu, selalu saja dia bercerita kalau ada "makhluk2" halus yang masuk ke mimpinya dan menggangu tidurnya. Selalu saja ilusi makhluk2 itu mengejar-ngejar dia di mimpinya.

Belum lagi cerita kalau di jaman Belanda dahulu, sebelum rumah ini direnovasi dan dibeli ayah DOdo, seorang Chinese pemilik rumah ini gantung diri di kamar belakang. Di kamar Dodo yang sekarang tempati sebagai kamar tidurnya.

Sekarang Dodo tinggal sendiri di rumah itu. Sekali seminggu (atau malah 2 minggu), kalau tidak sibuk, kakak tertuanya kembali dari Pekalongan untuk melihat keadaan Dodo. Berhubung Dodo tinggal sendiri di rumah itu, Dodo bebas menggunakan kamar mana yang dia sukai. Kadang kamar depan, kadang kamar tengah, atau kembali ke kamar dia sendiri di belakang. Lucunya tempat favorite Dodo untuk tidur adalah di sofa di ruang tamu ato ruang TV.

Rumah itu terdiri dari 3 Ruang tidur, 1 living room dan ruang TV yang hanya disekat dengan partisi, Ruang makan, Ruang setrika, dapur, kamar mandi dan toilet, serta garasi yang terkoneksi dengan ruang makan.

Kamar tidur depan selain berfungsi sebagai kamar tamu, juga berfungsi sebagai ruang drum. Ada 1 set drum di sana. Jarang Dodo memilih untuk tidur di sana. Suhu ruangan kamar itu cenderung panas dan terasa tidak ada udara mengalir di sana.

Ruang tidur tengah, dahulu ini adalah kamar tidur kedua kakak perempuan Dodo. Masih tertinggal beberapa peralatan dan meja belajar bekas kakaknya di sana.Di ruang tidur ini Dodo lumayan sering tidur di sana, karena kelembaban dindingnya yang tidak terlalu lembab dibanding kamar tidur belakang. Dan juga tidak terlalu kering bila dibanding kamar tidur depan. Lucunya ruangan senyaman ini Dodo sering 'diganggu' dalam tidurnya.

Pernah pada suatu saat Dodo tidur di kamar tidur tengah ini. Malam hari itu, seperti malam-malam sebelumnya tidak ada tanda khusus.Dodo tertidur lelap kecapain. Tapi tepat lewat tengah malam, Dodo terbangun. Badannya tetap dalam posisi terlentang. Matanya melihat ke sekeliling ruangan.Tapi, WHAT a H##L, apa-apaan ini. Tubuh Dodo tidak bisa digerakkan. Matanya merayap ke semua arah ruangan. Matanya berfungsi normal, tetapi badannya tdk bisa digerakkan.Uppps, kata Jawa ini namanya 'tindihan'. Masa sih ada 'makhluk halus' yang menduduki gue, pikir Dodo.
Konsetrasi, konsentrasi. Pelan-pelan Dodo mulai melawan. Eeeeerrrghhh, harus lepas. Byaaarr... dan akhirnya Dodo bisa begerak.

Alhamdulillah, syukur deh gue bisa gerak lagi, pikir Dodo sembari jalan ke ruang makan untuk meminun segalas air putih.Penting diingat; segelas air putih baik untuk mengembalikan sistem metabolisme kita yang kadang2 terganggu.

Kamar tidur belakang, wah ini lebih aneh lagi. Kononnya dahulu di kamar ini si empunya rumah terdahulu mati gantung diri. Hiii.... kadang Dodo suka serem kalo ingat cerita itu.

(bersambung)

No comments: